PKB BALI 2016

PKB

Pesta Kesenian Bali (PKB) sudah menjadi agenda rutin tahunan yang digelar sebulan penuh dalam mengisi liburan sekolah. 

DENPASAR, NusaBali
Selama rentang waktu 5 tahun kedepan, tema PKB pun telah ditetapkan yakni ‘Panca Mahabhuta’, yang setiap tahunnya secara bergilir dijabarkan bagian-bagian dari 5 unsur pembentuk alam semesta ini seperti Pertiwi, Apah, Bayu, Teja dan Akasa.
 
Pertiwi atau tanah, menjadi tema PKB ke-38 tahun 2016 ini yang rencananya akan dibuka pada Sabtu (11/6) mendatang. Konsep tanah inipun selanjutnya menjelma menjadi ‘Karang Awak’ yang memiliki arti Mencintai Tanah Kelahiran, respresentasi dari rasa cinta pada tanah air.
 
Dalam mematangkan konsep PKB ke-38 yang tahun ini mengambil tema ‘Karang Awak’, sejumlah Tim Pembina Provinsi pun mulai melakukan sosialisasi di 9 kabupaten/kita di Bali, termasuk Denpasar.
 
Di Denpasar, koordinator Tim Kurator PKB, Prof Wayan Dibia didampingi Komang Astita selaku pakar/konsultan hadir memberikan sosialisasi, Kamis (21/1) lalu di Aula Sabho Lango Santi Disbud Denpasar. Tim diterima langsung Kabid Seni Disbud Denpasar Ketut Suaryadala beserta para pejabat dan pembina lainnya.
 
Menurut Prof Dibia, ‘Karang Awak’ memiliki arti bagaimana membangkitkan kesadaran masyarakat Bali akan pentingnya pertiwi, tanah atau ibu pertiwi itu sendiri. “Kesadaran masyarakat Bali akan pentingnya memelihara ibu pertiwi sebagai wahana dalam memuliakan alam semesta harus terus digaungkan,” jelasnya.
 
Ditambahkan Prof Suarka, ‘Karang Awak’ merupakan istilah yang sudah melegenda lahir dari buah pikir seorang pendeta multi talenta Ida Pedanda Sidemen. ‘Karang Awak’ memiliki makna yang sangat dalam sebagai cermin bagi manusia dalam merevitalisasi diri kearah yang lebih baik.
 
Dari sisi garapan, Komang Astita menekankan harus semuanya mengacu pada nilai-nilai yang terkandung dari tema itu sendiri dan bukan judulnya ‘Karang Awak’. “Agar masing-masing daerah dalam mengangkat garapan tetap juga mempertimbangkan dan mengangkat seni dan budaya yang berkembang di wilayahnya masing-masing. Sehingga dengan tema tersebut diharapkan akan menghasilkan kesenian yang memiliki; Nilai, Edukasi dan Metaksu,” jelasnya.
 
Ditemui secara terpisah, koordinator pawai PKB AA Gede Raka mengatakan bahwa tema ‘Karang Awak’ ini bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk karya seni. “Lebih bagus lagi, saat pawai berlangsung masing-masing kabupaten/kota bisa menampilkan potensi di tanah kelahirannya masing-masing. Misal Bangli dengan gunung baturnya. Tema ini merupakan terjemahan dari kekayaan bumi dalam bentuk karya seni. Bahwa sesungguhnya karya seni berangkat dari fenomena alam,” jelasnya.
 
Selain itu, tema ini juga merepresentasikan pentingnya menjaga ibu yang telah melahirkan maupun ibu pertiwi. “Salah satu pesan yang bisa disampaikan lewat tema ini, tiada lain supaya orang Bali tidak menjual tanah Bali. Terlebih kepada orang luar Bali, karena akan menimbulkan degradasi budaya,” imbuhnya.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *